Akhir-akhir ini, nama Awkarin kembali menjadi perbincangan hangat. Kali ini bukan karena konten atau hubungan asmara, melainkan karena dikaitkan dengan kasus dugaan penipuan travel umrah Hanania Group. Banyak yang mengira bahwa ia baru saja bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Namun, melalui pernyataan resmi, Awkarin menegaskan bahwa kerja samanya dengan Hanania Group sudah berakhir sejak lama.
Fakta di Balik Kerja Sama
Menurut penjelasan dari kuasa hukum Awkarin, Artahsasta Prasetyo Santoso, kerja sama tersebut terjadi sekitar dua tahun lalu, tepatnya pada tahun 2022. Bentuk kerja samanya adalah barter promosi, di mana Awkarin mendapatkan fasilitas umrah gratis sebagai imbalan untuk mempromosikan layanan Hanania Group di akun Instagram-nya.
“Sekitar dua tahun yang lalu kami bekerja sama. Mungkin itu harus diperjelas lagi ya, karena banyak dari media atau teman-teman di social media yang mengira kami baru bekerja sama. Itu nggak,” ujar Awkarin saat ditemui di Polda Metro Jaya.
Klarifikasi di Tengah Isu
Awkarin merasa perlu memberikan klarifikasi karena banyak pihak yang salah paham. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam kasus yang sedang bergulir, karena kontraknya sudah berakhir jauh sebelum kasus ini mencuat. Langkah ini diambil untuk menjaga reputasi dan memberikan pemahaman yang benar kepada publik.
“Saya hanya ingin meluruskan, jangan sampai ada yang berpikir saya terlibat dalam masalah ini. Saya sudah tidak ada hubungan dengan mereka sejak 2022,” tambahnya.
Pelajaran Berharga
Kasus ini menjadi pengingat bagi para publik figur dan influencer untuk lebih selektif dalam menjalin kerja sama bisnis. Memastikan latar belakang dan legalitas mitra kerja menjadi hal yang krusial, terutama jika menyangkut layanan keagamaan dan perjalanan. Bagi para wanita karier, ini juga menjadi pelajaran untuk selalu waspada dan melakukan due diligence sebelum menerima tawaran kerja sama.
Awkarin sendiri berharap kasus ini bisa segera selesai dan publik tidak lagi salah mengartikan keterlibatannya. Ia juga mengimbau para pengikutnya untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya.